Affiliate Image

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN REKSADANA

Diposting oleh chikuz - frizia | 11:25 PM
Berikut beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan seputar kelebihan dan kekurangan resadana :
  1. Apa bedanya saham dengan RD saham? Mana yang lebih menguntungkan?

  2. Bagaimana caranya berinvestasi ke dalam RD?

  3. Ke mana atau kepada siapa saya harus menghubungi atau memperoleh informasi tentang perusahaan RD? Apakah di propinsi saya ada perusahaan RD tersebut?

  4. Kapan keuntungan/bunga RD diperoleh, per bulan atau per tahun?

  5. Apakah RD bisa dicairkan atau dijual/ beli sewaktu-waktu tanpa terikat jangka waktu tertentu?

  6. Apakah kerugian RD dibanding deposito biasa atau jenis investasi lain?

 

Berikut ini jawaban atas pertanyaan diatas .

  1. Mengenai beda saham dan RD saham, sebetulnya keduanya hampir sama. Bedanya adalah bahwa pada investasi saham, keputusan untuk memilih saham mana yang hendak dibeli terletak di tangan Anda. Sedangkan pada RD Saham, pemilihan saham mana yang ingin dibeli bukan terletak di tangan Anda, tetapi di tangan Tim Pengelola Investasi.

    Pada RD Saham, biasanya portofolio investasi yang ada didalamnya tidak 100% di saham, tetapi digabung juga dengan obligasi sehingga risiko turun naiknya harga (seperti pada investasi saham) bisa ditekan.

    Mana yang lebih menguntungkan dari keduanya? Jawabannya relatif.Jika Anda memiliki modal yang cukup besar dan ingin berinvestasi secara optimal, mungkin membeli saham langsung akan lebih menguntungkan bagi Anda.Namun jika Anda memiliki modal yang relatif sedikit dan masih awam akan dunia investasi serta tidak mampu menanggung risiko terlalu besar, maka RD saham bisa jadi lebih menguntungkan bagi Anda.

  2. Cara berinventasi dengan RD mudah saja. Anda bisa datang ke sebuah perusahaan yang menjual RD, mengisi formulir pendaftarannya, dan membeli Unit Penyertaan (UP)-nya. Reksa Dana pada umumnya sudah bisa dibeli dengan investasi awal minimal sebesar Rp 100 ribu hingga 500 ribu saja. Tinggal nanti dibagi dengan harga UP pada hari itu.

    Sebagai contoh, bila Anda ingin berinvestasi sebesar Rp 400 ribu, sedangkan harga UP saat itu adalah Rp 1.200 per UP-nya, dengan demikian Anda akan mendapatkan: Rp 400.000 : Rp 1.200 = 333,33 UP. Itulah jumlah UP yang akan Anda dapatkan.

  3. Setahu saya belum ada buku yang berisikan alamat lengkap dari perusahaan-perusahaan Reksa Dana. Namun demikian, kalau Anda bisa buka internet, Anda bisa coba mendapatkan informasi mengenai daftar alamat perusahaan RD di website resmi Safir Senduk & Rekan di alamat www.perencanakeuangan.com. Setelah masuk ke alamat itu, klik menu "Referensi" lalu klik "Reksa Dana". Dari situ Anda akan menemukan sebagian dari alamat perusahaan RD yang ada di Indonesia. Mudah-mudahan bermanfaat.

    Saya tidak tahu secara pasti apakah ada perusahaan RD atau agennya yang beroperasi di propinsi Anda. Namun itu bukan masalah, karena di mana pun Anda berada di seluruh Indonesia, Anda bisa menelepon perusahaan Reksa Dana (yang setahu saya semuanya berkantor pusat) di Jakarta, dan minta agar mereka mengirimkan brosur, prospektus, formulir pendaftaran dan formulir pembelian Unit Penyertaan ke alamat Anda. Selanjutnya, Anda bisa mendaftar dan membeli unit penyertaan tersebut dengan mem-fax atau mengirimkan formulir-formulir yang diperlukan ke perusahaan Reksa Dana melalui pos, dan memberikan uangnya melalui transfer bank.

  4. Ada dua macam keuntungan yang bisa kita peroleh dari RD. Keuntungan yang pertama adalah kenaikan atas nilai unit penyertaanyang kita miliki, di mana kita akan menikmati keuntungan itu jika menjual UP tersebut pada harga yang lebih tinggi dari harga ketika kita membelinya.

    Sedangkan keuntungan yang kedua adalah dari pembagian uang tunai, namun yang kedua ini biasanya hanya untuk RD saham saja dan - biasanya juga - tiap perusahaan RD punya kebijakan pembagian uang tunai yang berbeda. Ada pembagian uang tunainya dilakukan sekali dalam setahun, tetapi ada juga yang dua kali setahun. Jadi, keuntungan pertama hanya Anda dapatkan kalau Anda menjual kembali UP Reksa Dana Anda, dan keuntungan kedua akan Anda dapatkan sekali atau dua kali dalam setahun, tergantung kebijakan perusahaan Reksa Dana Anda.

  5. Benar. RD bisa dicairkan atau dijual/beli sewaktu-waktu tanpa terikat jangka waktu tertentu. Namun demikian, perusahaan Reksa Dana biasanya akan lebih senang kalau Anda berinvestasi untuk jangka waktu yang panjang. Itulah sebabnya, di sebagian perusahaan Reksa Dana, kalau Anda menjual kembali UP Reksa Dana Anda dalam waktu pendek (misalnya saja kurang dari setahun setelah Anda membelinya pertama kali), Anda harus membayar biaya penjualan kembali sebesar jumlah tertentu (sekitar 0,75% - 1,5% dari total transaksi). Makin lama jangka waktu penjualan kembalinya, makin kecil biayanya, bahkan cenderung hampir tidak ada.

  6. Jika dibandingkan dengan produk investasi lain, kekurangan RD pada saat ini adalah bahwa keputusan pemilihan investasi tidak dilakukan oleh Anda, tapi dilakukan oleh Tim Pengelola Investasi (bagi sebagian orang ini adalah kelemahan, namun bagi orang awam ini adalah kelebihan).

    Kelemahan lain dari RD bila dibanding deposito biasa adalah risikonya yang lebih besar dibandingkan dengan deposito/tabungan (tetapi jangan lupa bahwa secara umum, investasi yang memiliki risiko yang lebih besar biasanya juga menawarkan potensi keuntungan yang lebih besar juga).

Mudah mudahan informasi diatas dapat berguna khususnya bagi yang awam mengenai reksadana.

Read More...

UNTUNG RUGI ARISAN

Diposting oleh chikuz - frizia | 11:12 PM
Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 825/XVI

Pertanyaannya sekarang, banyak dari kita yang memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang arisan. Apa sih untung rugi dari mengikuti arisan? Bukankah arisan itu cuma jadi ajang ngerumpi ibu-ibu saja?

Bapak-Ibu, bagi Anda yang masih belum mengerti tentang apa itu arisan, saya akan mencoba menjelaskannya sekilas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan arisan merupakan kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi diantara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Bahkan dalam perkembangan arisan tak hanya diartikan sebagai ajang kumpul-kumpul sosialisasi. Sekarang arisan sudah berkembang luas. Ada arisan lewat surat, email, dan lain-lain. Bahkan para peserta tidak saling kenal apalai ketemu. Untuk jenis yang terakhir saya sebutkan ini, saya tidak menyarankannya Anda mengikuti karena terlalu banyak unsur yang tidak jelas. Jika Anda tidak mendapatkan hasil yang dijanjikan tidak ada pihak yang bisa Anda tuntut.

Jadi, mari kita bicara arisan yang "konvensional" saja. Bicara tentang arisan jenis ini, yang terbayang mungkin adalah kegiatan kumpul-kumpul yang dilakukan oleh sejumlah orang, yang disertai juga dengan "kumpul-kumpul" uang atau benda lain yang disepakati bersama dengan nilai tertentu.

Pada pertemuan pertama, belum ada yang mendapatkan apa-apa, karena baru "kumpul-kumpul" saja. Tetapi, pada pertemuan pertama itu pulalah disepakati, apa jenis arisannya (uang atau barang), siapa saja pesertanya, berapa nilai yang diharapkan dari masing-masing peserta, dan disepakati kapan waktu untuk mengadakan rutinitas arisan tersebut.

Bila pada pertemuan pertama itu dapat langsung dikumpulkan uang atau barang yang disepakati, maka pada pertemuan pertama itu pula langsung diadakan pengundian untuk menentukan siapa memperoleh akumulasi dari uang atau barang dari peserta lainnya.

Misalnya, Anda dan sembilan orang rekan Anda menjadi peserta arisan yang sudah sepakat untuk mengumpulkan masing-masing Rp 100 ribu per bulan, sehingga total terkumpul Rp 1 juta setiap bulan. Berarti, setiap bulannya, salah satu peserta akan mendapatkan Rp 1 juta tersebut dengan cara diundi. Pada bulan berikutnya, undian dilanjutkan untuk peserta yang belum dapat. Tentu saja, peserta yang sudah pernah mendapat undian tetap harus menyetor Rp 100 ribu setiap bulan sampai 10 bulan, atau sampai semua peserta kebagian mendapat undian.

Ini hanya sekadar ilustrasi, mengambil contoh kalau yang dikumpulkan oleh peserta arisan adalah uang. Pada kenyataannya, yang dikumpulkan oleh peserta arisan bisa berupa barang jenis apapun tergantung kesepakatannya, seperti yang saya sebutkan tadi.

Sekarang, apa untung ruginya ikut arisan? Oke kita bahas Untungnya dulu ya?

  1. Kesempatan untuk melakukan sosialisasi dan memperluas jaringan
  2. Kepastian mendapatkan uang atau barang yang jelas nilainya dalam jangka waktu tertentu
  3. Dapat digunakan sebagai sarana untuk "memasarkan sesuatu".
  4. Jika mendapat undian di awal periode arisan, berarti Anda mendapat pinjaman tanpa bunga
  5. Sarana "berlatih" menabung

Mari kita bahas satu per satu :

  1. Kesempatan untuk melakukan sosialisasi dan memperluas jaringan
    Lewat arisan Anda bisa lebih saling mengenal satu sama lain, yang tentunya membuat Anda lebih akrab dengan sesama peserta arisan. Hubungan yang lebih baik ini dapat memudahkan juga urusan-urusan Anda lainnya di luar, yang berkaitan dengan sesama peserta arisan.

    Contoh, kalau Anda ikut arisan karyawan kantor di mana Anda bekerja di dalamnya, hubungan Anda dengan sesama rekan kerja Anda, baik yang di bawah (staf) maupun atasan Anda menjadi lebih baik, karena seringnya pertemuan secara tidak resmi di arisan.

    Kedekatan Anda dengan peserta lainnya dalam arisan dapat dikembangkan menjadi hubungan yang semakin baik dalam pekerjaan. Contoh lain, khusus untuk kaum perempuan, kalau Anda ikut arisan istri-istri karyawan suatu kantor di mana suami bekerja di dalamnya, hubungan baik Anda dengan istri bos misalnya, mungkin saja memudahkan urusan suami Anda di kantornya dengan bosnya.

    Mengapa arisan dapat memperluas jaringan? Ini juga bisa terjadi, kalau peserta arisan lainnya memperkenalkan Anda dengan teman atau relasinya, yang misalnya ikut diajak menghadiri arisan. Anda jadi tambah kenalan, yang siapa tahu berguna bagi Anda saat ini atau mungkin di masa mendatang. Apapun, dari segi sosialisasi, sangat banyak yang bisa Anda lakukan dengan menghadiri suatu arisan.

  2. Kepastian mendapatkan uang atau barang yang jelas nilainya dalam jangka waktu tertentu
    Dengan mengikuti arisan, Anda jadi dapat memperkirakan, berapa waktu maksimal yang Anda butuhkan untuk memperoleh uang atau barang dalam jumlah tertentu. Ini tentunya memudahkan Anda dalam membuat perencanaan pengeluaran Anda. Kalau kita masih melihat contoh tadi, dimana diperkirakan setiap bulan diperoleh uang Rp 1 juta, maka sudah pasti jumlah uangnya tidak akan kurang dari itu, dan waktunya, walaupun bervariasi antara 1 sampai 10 bulan. Kalau Anda ingin beli sebuah gaun dengan uang tadi, sudah jelas perkiraan waktunya. Syukur-syukur Anda dapat di awal arisan atau bulan pertama, yang berarti Anda seperti dapat pinjaman, tetapi untuk membayar pinjaman tersebut Anda tidak dikenakan bunga. Kalaupun Anda dapat di akhir periode arisan, misal 10 bulan, ini berarti Anda seperti menabung (walaupun tidak dapat bunga). Dan siapa tahu, pada bulan ke-10, gaun itu sedang diobral oleh penjualnya? Berarti harganya turun dong? (tetapi jangan lupa juga, bisa saja harganya justru sedang naik, ini berarti Anda tidak mendapatkan keuntungan)

  3. Dapat digunakan sebagai sarana untuk "memasarkan sesuatu"
    Kalau Anda hobi punya barang-barang yang bisa Anda jual, coba bawa barang itu pada saat arisan. Siapa tahu, peserta arisan yang lain tertarik untuk membelinya. Ini adalah cara pemasaran yang cukup menarik, karena mungkin saja ada faktor "sungkan" dari peserta arisan sehingga membeli barang Anda. Ingat lo, itu hanya mungkin, artinya belum pasti, dan kalaupun ada rasa sungkan itupun jangan sampai kita manfaatkan secara berlebihan. Lama-lama, dari sungkan jadi "sebel".

    Begitu juga kalau kita punya keahlian, buatlah keahian kita diketahui peserta arisan lainnya, siapa tahu mereka tertarik memakai jasa kita. Contoh, kalau kita bisa mengajari bahasa Inggris untuk anak-anak, siapa tahu kita diminta mengajari anak-anak dari peserta arisan tersebut.

  4. Jika mendapat undian di awal periode arisan, berarti Anda mendapat pinjaman tanpa bunga
    Nah, kalau ini termasuk jenis keuntungan yang tidak pasti, karena namanya undian, Anda tidak tahu kapan akan mendapatkannya, di awal, tengah, atau akhir periode arisan. Tapi, kalau Anda mendapatkannya di awal, ini lebih menguntungkan dibanding pinjam uang dari bank misalnya, atau pihak manapun yang biasanya meminta pengembalian berupa bunga.

  5. Sarana "berlatih" menabung
    Nah, kalau yang ini, khusus bagi Anda yang sulit atau belum terbiasa untuk menabung. Ikut arisan adalah pilihan yang baik. Mau tidak mau, Anda "dipaksa" untuk menyisihkan uang atau barang tertentu pada periode tertentu dan melatih Anda untuk lebih merencanakan segala sesuatu dengan lebih matang. Tapi, kalau Anda sudah disiplin menabung, ya tidak usah ikut arisan kalau motivasinya hanya latihan menabung, kan Anda sudah pintar?


Read More...

TIPS PERSIAPAN MEMBELI RUMAH

Diposting oleh chikuz - frizia | 11:09 PM
Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 695/XIV

Rini baru saja menidurkan Adit, putranya yang berusia 3 tahun ketika suaminya, Indra, menghampirinya dan berkata, "Ma, aku rasa sudah waktunya kita punya rumah sendiri."

Ah, bertahun-tahun rasanya kalimat itu sangat diharapkan Rini keluar dari mulut suaminya. Betapa tidak, setelah 5 tahun perkawinan mereka, Indra tidak pernah benar-benar menyatakan berniat untuk memiliki rumah. Sampai saat ini mereka memang masih tinggal bersama orang tua Indra. Walaupun mertuanya sangat menyayanginya, sebetulnya Rini lebih senang jika bisa tinggal di rumah sendiri. Lagi pula Adit yang selama ini tidur bersama mereka, sepertinya sudah mulai pantas untuk punya kamar sendiri.

Pembaca, bila kita bertanya kepada setiap orang yang belum memiliki rumah, hampir semuanya spontan mengatakan bahwa akan lebih baik bila mereka bisa memiliki rumah sendiri dibanding sekadar menyewa. Alasannya bisa bermacam-macam. Saya di sini tidak ingin bicara tentang apa untung ruginya memiliki rumah sendiri dengan hanya menyewa saja. Karena sekali lagi, ada banyak sebab yang melatarbelakangi timbulnya keinginan untuk memiliki rumah sendiri.

Oke, keinginan, sih, keinginan. Tapi saya rasa tidak semua dari Anda punya cukup uang, kan, untuk bisa memenuhi keinginan tersebut? Ini karena kondisi keuangan masing-masing dari Anda berbeda-beda. Tidak jadi masalah bagi Anda yang pada saat ini sudah memiliki dana yang cukup untuk bisa membeli rumah. Tapi bagaimana bagi Anda yang belum memiliki dana yang cukup pada saat ini?


Kapan Saat yang Tepat untuk Membeli Rumah?

Bagi Anda yang pada saat ini belum memiliki rumah, kapan sih saat yang tepat bagi Anda untuk membelinya? Sebetulnya tidak ada jawaban yang pasti. Sejumlah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Anda mungkin adalah pertanda bahwa sudah saatnya bagi Anda untuk membeli sebuah rumah. Misalnya saja, rencana menikah atau bertambahnya anggota keluarga mungkin merupakan suatu pertanda bahwa Anda mungkin sudah harus memiliki rumah sendiri.

Perhatikan bahwa membeli rumah, baik bagi yang baru pertama kali maupun bagi yang sudah beberapa kalinya, selalu merupakan suatu keputusan penting yang perlu pemikiran matang. Iya dong, karena dengan membeli rumah, maka Anda mungkin harus memiliki suatu komitmen jangka panjang. Kalau nanti rumah Anda rusak-rusak pada tahun kelima, ketujuh atau kesembilan, Anda kan tetap harus keluar uang untuk memperbaikinya kan? Itulah yang dimaksud dengan komitmen jangka panjang, yaitu bahwa apa pun yang terjadi dengan rumah itu, selama rumah itu adalah milik Anda, maka Anda harus merawatnya.

Bagi Anda yang membeli rumah secara kredit, maka Anda mungkin harus membayar cicilan rumah dengan jangka waktu yang bervariasi, mulai dari satu, tiga, lima, hingga 15 tahun lamanya. Belum lagi Anda juga harus membayar biaya-biaya lain yang mungkin muncul di tengah jalan, seperti perawatan rumah, renovasi, perluasan, dan lain-lain sehingga dalam perjalanannya nanti rumah Anda mungkin akan terus menyesuaikan diri dengan gaya hidup Anda sekeluarga.


Bagi Sebagian Orang, Punya Rumah adalah Impian

Jika ditinjau dari fungsinya, rumah semata-mata adalah tempat bernaung. Jangan lupa bahwa memiliki tempat untuk bernaung merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi seperti layaknya makanan dan pakaian. Kalau Anda butuh makan dan butuh pakaian, maka Anda juga perlu tempat untuk bernaung.

Bagi kebanyakan orang, memiliki rumah adalah suatu impian yang sudah ada dalam benak mereka sejak jauh-jauh hari, di mana seringkali impian itu terbentuk dari pengalaman hidup mereka. Mungkin saja seseorang yang di masa kecilnya tidak mempunyai halaman untuk bermain ingin sekali memiliki rumah dengan halaman yang luas. Di lain pihak, bagi orang yang kebetulan dilahirkan sebagai anak tunggal mungkin saja menginginkan rumah mungil yang asri dan nyaman.

Karena itu, tidak ada rumusan yang tepat ketika berbicara tentang seperti apa rumah idaman itu, karena rumah dengan model seperti ini mungkin cocok untuk orang dengan tipe ini tetapi belum tentu cocok untuk orang dengan tipe itu.

Namun demikian, terkadang kita dihadapkan pada kenyataan bahwa secara ekonomi kita belum mampu memiliki rumah, tidak peduli bahwa kebutuhan untuk punya rumah sendiri mungkin sudah sangat mendesak sekalipun. Belum lagi ditambah dengan adanya keinginan kuat untuk mewujudkan rumah idaman dengan model ini atau itu.

Yang pasti, ketika Anda sudah memutuskan untuk membeli rumah, maka selalu ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti kondisi ekonomi, kecenderungan turun naiknya harga rumah, bunga kredit bank dan ­ yang paling penting ­ kondisi keuangan Anda. Sudah cukup amankah penghasilan Anda? Berapa jumlah tabungan Anda saat ini? Berapa jumlah pengeluaran rutin Anda? Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang langkah-langkah persiapan apa yang harus Anda lakukan bila Anda memutuskan untuk membeli rumah:

  1. Putuskan rumah seperti apa yang Anda inginkan dan cobalah mencarinya

    Ada baiknya bila Anda terlebih dahulu mengambil kertas dan menuliskan apa yang sebetulnya menjadi kebutuhan Anda yang bisa dipenuhi dalam rumah itu, seperti berapa jumlah kamar yang Anda inginkan? Berapa jumlah kamar mandinya? Sebesar apa halamannya? Haruskah rumah itu memiliki garasi? Seperti apa kondisi atap yang Anda inginkan?

    Setelah itu, coba tuliskan juga fasilitas-fasilitas umum macam apa yang Anda inginkan disekitar rumah Anda, apakah rumah Anda harus berada di pinggir jalan raya? Apakah Anda ingin agar rumah Anda dekat dengan rumah ibadah? Atau apakah Anda ingin agar ada sekolah di dekat rumah Anda?

    Setelah menuliskannya, tiba waktunya bagi Anda untuk mulai mencari rumah yang memenuhi ­ atau paling tidak mendekati ­ keinginan Anda. Mungkin ada baiknya bila Anda datang ke berbagai pameran rumah karena disana Anda bisa mendapatkan banyak sekali informasi rumah dari para sales yang siap membantu Anda. Ditambah lagi, di pameran biasanya juga ditawarkan potongan harga yang cukup besar.

    Tentu saja, sebaiknya Anda tidak langsung percaya pada gambaran kondisi rumah yang tertera pada brosur penjualan atau maket di pameran tersebut, karena dalam prakteknya seringkali kenyataannya berbeda dengan apa yang ada di lapangan. Apa yang harus Anda lakukan adalah dengan datang ke lokasi dan melihatnya sendiri. Malah kalau perlu, buat sejumlah foto dari rumah-rumah tersebut pada saat kunjungan agar bisa Anda pelajari sendiri foto-foto tersebut di rumah.

    Lihatlah beberapa rumah sekaligus, karena makin banyak kemungkinan yang Anda lihat akan makin baik. Bandingkan satu dengan yang lain, sehingga dari situ Anda akan memiliki gambaran tentang rumah mana yang terbaik untuk Anda.


  2. Lihat berapa harga rumah dan berapa jumlah yang harus Anda bayar untuk bisa membelinya

    Kita anggap saja Anda sudah tahu tentang rumah mana yang Anda inginkan. Setelah itu, tanyakan berapa harganya. Jangan kaget kalau harganya mahal, karena rumah sebetulnya adalah salah satu pembelian terbesar yang mungkin pernah Anda lakukan dalam hidup Anda.

    Oh ya, kadang-kadang mungkin ada biaya-biaya lain juga lho yang harus Anda bayar. Contohnya seperti Biaya Pemesanan (booking fee), Akte Jual Beli, Biaya Balik Nama Serfikat, Biaya Jasa Notaris dan lain sebagainya. Jadi sebetulnya, tidak hanya harga rumah itu saja yang harus Anda bayar, tetapi ada biaya-biaya lain juga yang harus Anda antisipasi sehingga dari sini Anda bisa menghitung berapa jumlah keseluruhan yang harus Anda bayar untuk bisa mendapatkan rumah yang Anda inginkan.


  3. Hitung berapa jumlah dana yang Anda miliki saat ini

    Setelah tadi Anda melihat rumah yang Anda inginkan dan menanyakan harganya, sekarang cobalah menghitung berapa jumlah dana yang Anda miliki pada saat ini. Dana tersebut bisa berasal dari tabungan, deposito atau dari koleksi investasi Anda yang lain. Kemudian, barulah kita masuk ke langkah berikut


  4. Putuskan apakah Anda akan membeli secara tunai atau kredit

    Anda sudah menghitung berapa jumlah dana yang Anda miliki pada saat ini. Dari situ, sekarang pertanyaannya adalah: apakah dana Anda cukup untuk bisa membeli rumah tersebut secara tunai? Kalau ya, bagus. Anda mungkin bisa langsung membeli rumah tersebut dan persoalannya selesai. Bagaimana bila Anda tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli rumah tersebut secara tunai? Jelas Anda harus ambil kredit.

    Kalau Anda datang ke bank, maka bank biasanya memiliki produk kredit yang bisa dimanfaatkan untuk membeli rumah. Nama produk ini adalah KPR atau Kredit Pemilikan Rumah. Untuk bisa mengambil KPR, maka bank biasanya tidak akan mau membayari rumah Anda 100%. Mereka hanya akan membayari rumah Anda sekitar 70% dari harga rumah, sisanya yang 30% harus Anda bayar sendiri dari kantong Anda. Bagaimana caranya? Kalau harga rumah yang Anda inginkan adalah Rp 100 juta, maka Anda harus membayar dulu 30%-nya dari kantong Anda (dalam contoh ini berarti Rp 30 juta). Setelah itu, barulah bank akan melunasi sisanya yang 70% (yaitu Rp 70 juta). Di sini, jumlah 30% yang Anda bayar dianggap oleh bank sebagai Uang Muka (Down Payment = DP)


  5. Siapkan dananya

    Sekarang, bagaimana kalau dana yang Anda miliki tidak cukup untuk bisa membayar Uang Muka yang 30% itu? Boro-boro bisa bayar yang 30 %, wong untuk bayar 10 %-nya saja enggak cukup Gimana dong kalau begitu?

    Bila demikian, maka Anda mungkin harus menabung secara rutin untuk bisa mengumpulkan uang muka tersebut. Sebagai contoh, kalau harga rumah yang Anda inginkan adalah Rp 100 juta, 30 %-nya berarti Rp 30 juta. Nah, kalau dana Anda saat ini cuma Rp 5 juta, ini berarti Anda harus menabung untuk bisa mengumpulkan sisanya yang Rp 25 juta.

    Di lain pihak, bisa saja Anda menabung bukan untuk membayar Uang Muka, tetapi untuk membayar rumah tersebut secara tunai 100 %. Walaupun mungkin hal ini bisa memakan waktu lama, tetapi dengan demikian Anda tidak perlu ambil kredit lagi kan? Dalam contoh di atas, ini berarti Anda harus menabung sampai bisa mengumpulkan Rp 100 juta dalam rekening Anda agar bisa membeli rumah tersebut secara tunai.

    Tapi awas, jangan lupa untuk memasukkan unsur inflasi dalam perhitungan Anda. Artinya, harga rumah pada saat ini adalah Rp 100 juta. Anda lalu memutuskan untuk menabung selama satu tahun agar dana Rp 100 juta tadi bisa terkumpul. Tapi, mungkin saja setelah satu tahun harga rumah tersebut sudah naik sekitar sepuluh, duapuluh, atau tiga puluh persen. Jadi, jumlah yang harus Anda tabung bukan lagi Rp 100 juta, tetapi sebaiknya ­ mungkin - sekitar Rp 130 juta.

Pada nomor mendatang, kita akan membahas tentang strategi apa yang harus Anda tempuh bila Anda ingin membeli rumah melalui jalur kredit. Kasarnya, bagaimana strateginya agar Permohonan KPR Anda bisa diterima oleh bank.



TAWAR, TAWAR, TAWAR

Bila Anda membeli rumah dari pengembang (developer), maka rumah tersebut biasanya masih baru, berada di kompleks perumahan dan belum pernah ditempati sama sekali. Untuk rumah seperti ini, biasanya harga yang ditawarkan pengembang adalah harga pas.

Namun demikian, Anda bisa juga tidak membeli rumah dari pengembang, tetapi dari orang yang sudah menempati rumah tersebut. Jadi, istilahnya adalah rumah bekas. Nah, untuk rumah seperti ini biasanya harga yang ditawarkan masih bisa dinegosiasikan. Karena itu, ada beberapa informasi yang sebaiknya Anda dapat sehingga Anda bisa lebih siap dalam melakukan tawar menawar harga dengan si penjual:

  • Cek apakah harga rumah yang ditawarkan penjual kurang lebih sama dengan harga rumah lain dengan kondisi yang sama dan di lokasi yang sama. Bila harga rumah di tempat lain tersebut lebih rendah, Anda mungkin bisa meminta si penjual menurunkan harganya.

  • Cek juga kondisi rumah tersebut, apakah rumah itu memiliki sejumlah kerusakan yang ­ tidak bisa tidak ­ harus diperbaiki oleh Anda sebagai pemilik barunya nanti. Semakin banyak kerusakannya, posisi tawar menawar Anda bisa lebih kuat karena Anda bisa meminta si penjual menurunkan harga rumahnya.

  • Cek juga sudah berapa lama rumah tersebut ditawarkan untuk dijual. Jika rumah itu sudah ditawarkan dalam waktu yang cukup lama, maka si penjual mungkin akan makin ingin menjual rumahnya dan mau menerima tawaran harga yang lebih rendah.


  • Read More...

    TIPS MEMBELI MOBIL

    Diposting oleh chikuz - frizia | 11:06 PM
    Oleh: Safir Senduk

    Dikutip dari Tabloid NOVA No. 705/XIV

    Beberapa di antara Anda mungkin tertarik untuk memiliki mobil pribadi. Entah apakah itu dalam bentuk sedan, minibus, station wagon, bak terbuka, atau apapun itu. Dan mobil, selain lebih memudahkan urusan kita dalam bepergian, baik untuk urusan pekerjaan maupun urusan rumah tangga, juga menghindarkan kita dari risiko kehujanan atau kepanasan. Selain itu, mobil Anda juga bisa digunakan membawa barang dalam jumlah banyak atau menggunakannya untuk tujuan­tujuan produktif lainnya, seperti memperlancar jalannya usaha Anda, mengantar anak ke sekolah, mengajak keluarga bepergian, dan lain sebagainya.

    Dalam perkembangannya, kebutuhan akan mobil bukan lagi bergantung pada manfaatnya, tapi juga pada gengsinya. Kita tidak bisa menutup mata bahwa gengsi terkadang juga memegang peranan penting dalam mempengaruhi pertimbangan seseorang sebelum memilih mobil. Tentu saja, ini sah-sah saja, sepanjang Anda memang masih bisa membiayainya. Ya, kan?

    Kebanyakan orang berpikir bahwa membeli mobil tidak serumit membeli rumah. Lagipula apa, sih, susahnya, datang saja ke dealer mobil, pilih model yang cocok, kemudian negosiasikan harganya. Beres, kan? Betul. Harga mobil pada umumnya memang tidak semahal harga rumah. Bila Anda membeli mobil secara kredit, pilihan jangka waktu kredit yang tersedia pada umumnya juga lebih sedikit dan lebih pendek daripada jangka waktu kredit untuk membeli rumah.

    Betul. Membeli mobil memang tidak serumit membeli rumah. Tapi, apa yang harus dilakukan setelah membeli mobil itulah yang harus betul-betul diketahui. Ini karena ketika Anda membeli mobil, maka Anda sebetulnya sudah mengikatkan diri pada suatu komitmen jangka panjang. Iya, dong. Komitmen pertama adalah komitmen yang berhubungan dengan operasional mobil itu, seperti bahwa Anda harus mengeluarkan uang secara rutin untuk membayar biaya bahan bakarnya, biaya parkir, dan lain sebagainya. Komitmen kedua adalah komitmen yang berhubungan dengan perawatan mobil itu, seperti bahwa Anda harus mengeluarkan uang untuk merawat mobil Anda secara rutin dan mengganti suku cadang setiap beberapa ratus/ribu kilometer sekali. Itu juga butuh biaya yang mungkin tidak sedikit. Komitmen ketiga adalah komitmen yang berhubungan dengan pembetulan kerusakan. Artinya, Anda juga harus melakukan pembetulan setiap kali ada kerusakan yang terjadi pada fisik atau suku cadang mobil Anda, entah itu karena kecelakaan atau bukan. Itu juga butuh biaya yang mungkin tidak sedikit.

    Semua itu, tentu saja akan membebani anggaran pengeluaran dalam keluarga Anda. Belum lagi bahwa harga-harga biasanya akan selalu naik setiap tahun. Inilah sebabnya kita sering mendengar kata-kata, "Makin tua umur mobil, biasanya dia akan semakin merongrong." Tentunya kata merongrong di sini adalah merongrong uang Anda.

    Tapi, hal sebaliknya terjadi pada nilai mobil itu sendiri. Perlu Anda tahu bahwa mobil adalah barang yang nilainya menyusut dari tahun ke tahun bila Anda pakai. Yang jelas, mesin mobil tidak akan lebih prima daripada ketika Anda membelinya pertama kali. Belum lagi badan luar mobil. Inilah kenapa nilai mobil akan terus menyusut dari tahun ke tahun setelah Anda pakai.


    BERAPA YANG SANGGUP ANDA BIAYAI?

    Hal yang pertama yang harus dilakukan sebelum membeli mobil adalah dengan mengetahui berapa jumlah dana yang Anda miliki saat ini dan memberi batasan seberapa banyak dari dana tersebut yang dapat dibelanjakan untuk membeli mobil. Pembelian mobil dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu membeli secara tunai atau membeli secara kredit. Biasanya dealer mobil akan meminta Anda untuk membayar "tanda jadi" atau booking fee (semacam harga yang harus dibayar agar mobil Anda tidak 'diambil' orang lain).

    Untuk pembelian mobil secara kredit maka Anda akan diminta untuk membayar uang muka sebesar jumlah tertentu dari harga mobil, sehingga sisanyalah yang akan dicicil. Setiap dealer mobil biasanya bekerja sama dengan perusahaan leasing untuk menyediakan jasa pembelian mobil dengan kredit. Atau, bisa juga mengajukan Kredit Pemilikan Mobil (KPM) ke bank. Pada saat ini jangka waktu kredit mobil rata-rata hanya 1 s/d 3 tahun. Untuk menentukan berapa jumlah cicilan mobil yang sanggup Anda bayar, maka patokannya adalah jumlah cicilan kredit mobil Anda seharusnya tidak lebih dari 1/3 penghasilan Anda per bulan, sehingga sisanya atau 2/3 dari penghasilan Anda dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga. Selain itu, perlu diperhitungkan pula anggaran untuk biaya bahan bakar mobil, perawatannya dan asuransi.


    MEMILIH JENIS MOBIL YANG SESUAI

    Ada baiknya bila Anda memilih mobil yang sesuai dengan kebutuhan Anda, dan bukan semata-mata karena mobil tersebut sudah begitu lama Anda inginkan. Tentukan manfaat apa saja yang Anda inginkan dari mobil itu, dan cari jenis mobil yang paling memenuhi manfaat yang Anda inginkan tersebut. Dengan hanya membatasi pilihan pada jenis mobil yang memang memenuhi kebutuhan Anda, maka Anda dapat lebih banyak menghemat waktu dan mencegah keluarnya lebih banyak uang untuk membeli mobil yang - mungkin - belum tentu memenuhi kebutuhan Anda.

    Sebelum membeli mobil, carilah informasi tentang harga-harga pasaran dari berbagai macam merek mobil yang memiliki jenis mobil yang Anda inginkan. Semakin banyak pilihan mereknya, tentu akan semakin baik untuk Anda..

    Setelah Anda mempersiapkan anggarannya dan memilih jenis mobil yang Anda inginkan, maka saatnya bagi Anda untuk pergi membelinya. Membeli mobil tentu saja tidak selalu berarti bahwa Anda harus pergi ke dealer mobil. Bisa saja Anda membelinya dari saudara atau teman. Tapi, yang paling penting adalah bahwa Anda harus tetap pada rencana semula dan mematuhi anggaran yang sudah dibuat. Siapapun mereka - entah mereka adalah saudara Anda, teman Anda atau siapapun dia yang mungkin dekat dengan Anda - anggap saja bahwa semuanya adalah penjual mobil yang akan membujuk Anda untuk membeli, tidak peduli apakah mobil tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda atau tidak.

    Yang terbaik yang bisa Anda lakukan adalah dengan memperlihatkan bahwa Anda sudah tahu apa yang akan dibelanjakan dan Anda sedang mencari mobil tertentu yang memiliki manfaat seperti yang Anda inginkan. Di bawah ini adalah sejumlah tips yang mungkin berguna bagi Anda ketika sedang melihat-lihat, memilih dan membeli mobil:

    1. Jangan pernah memutuskan membeli mobil tanpa mempertimbangkannya lebih dulu. Ingat, mobil ini akan Anda pakai selama beberapa tahun ke depan. Jadi, jangan pernah langsung membeli mobil tanpa lebih dulu mempertimbangkannya, walaupun jika mobil itu diiming-imingi diskon sekalipun. Mobil dengan harga murah belum tentu bisa memenuhi kebutuhan Anda. Tidak perlu terburu-buru. Lihat semua pilihan yang tersedia. Gabungkan seluruh informasi dari dealer-dealer mobil yang sudah Anda kunjungi dan bandingkan harganya satu sama lain.

    2. Jika Anda menghubungi dealer lewat telepon untuk menanyakan harga mobil, catatlah selalu nama penjual yang mengatakan harga itu kepada Anda dan jangan lupa untuk memberikan juga nama Anda. Gunanya adalah bahwa ketika Anda datang, si penjual mobil tidak akan memberikan harga yang berbeda (yang mungkin lebih tinggi) daripada ketika ia memberitahukan harganya lewat telepon.

    3. Waktu-waktu yang terbaik untuk bernegosiasi harga biasanya adalah di akhir bulan, ketika para penjual mobil sedang berusaha untuk mencapai target penjualan. Demikian juga beberapa minggu sebelum hari raya Lebaran atau Natalan. Atau bisa juga pada bulan Januari atau Februari. Ini karena biasanya pada saat-saat tersebut bisnis sedang berjalan lambat.

    4. Jangan pernah mendiskusikan mengenai cicilan kredit mobil sampai Anda mendapatkan harga yang pasti. Buatlah negosiasi menjadi mudah dan sederhana.

    5. Bersiaplah untuk mengatakan tidak jika Anda merasa tidak mendapatkan harga yang pantas untuk mobil tersebut. Jangan merasa sungkan untuk angkat kaki bila Anda merasa harganya tidak cocok.



    PERSYARATAN KREDIT MOBIL

    Tentu saja, membeli mobil secara tunai biasanya akan lebih murah dibanding bila Anda membeli mobil tersebut secara kredit. Namun demikian, jika dana Anda tidak mencukupi untuk membeli mobil secara tunai, maka Anda dapat membelinya secara kredit. Bila Anda membeli mobil melalui dealer, maka setiap dealer mobil biasanya menyediakan jasa pembelian mobil secara kredit, dimana mereka bekerja sama dengan perusahaan keuangan seperti perusahaan leasing (perusahaan pembiayaan) atau bank. Sehingga, disetujui atau tidaknya permintaan kredit yang Anda ajukan tersebut, tentu saja berada di tangan perusahaan leasing atau bank tersebut. Untuk mengajukan kredit mobil, maka Anda perlu melengkapi data­data diri Anda sebagai berikut:

    1. Foto kopi KTP

    2. Foto kopi Kartu Keluarga

    3. Foto kopi Akte Nikah, bagi yang sudah menikah

    4. Foto kopi slip gaji dan Surat Keterangan Bekerja, bagi karyawan

    5. Foto kopi Buku Tabungan atau Rekening Koran minimal 3 bulan terkahir

    6. Foto kopi tagihan listrik 1 bulan terakhir

    7. Foto kopi SPPT / PBB (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang / Pajak Bumi dan Bangunan ) tahun terakhir
    Oh ya, walaupun Anda membeli mobil secara kredit, Anda harus tetap menyediakan sejumlah uang tunai karena ada beberapa biaya-biaya yang harus dibayar di muka, seperti :
    1. Tanda jadi (booking fee)

    2. Uang muka (down payment)

    3. Biaya asuransi mobil

    4. Biaya administrasi
    Dan mungkin akan lebih bijaksana jika Anda tidak memaksakan diri untuk membeli mobil baru, jika setelah diperhitungkan, ternyata cicilan bulanannya sangat berat untuk Anda. Ini karena pendeknya jangka waktu kredit pada mobil (yang biasanya 1 s/d 3 tahun) membuat jumlah cicilan bulanan mobil akan jauh lebih besar daripada cicilan rumah yang jangka waktunya panjang (bisa sampai 15 tahun). Jika kondisi Anda seperti ini, maka ada baiknya bila Anda mempertimbangkan saja untuk membeli mobil bekas yang kondisinya masih baik.


    DIJUAL KEMBALI
    DENGAN HARGA LEBIH TINGGI

    Kenapa ada mobil yang bisa dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi?

    Di atas dikatakan bahwa nilai mobil akan terus menyusut dari tahun ke tahun segera setelah Anda memakainya. Lalu, kenapa ada mobil yang bisa dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi daripada harga belinya setelah dipakai? Jawabannya adalah karena naiknya harga dolar. Jangan lupa bahwa suku cadang mobil-mobil di Indonesia pada umumnya masih dibeli dari luar negeri, dimana transaksi pembelian tersebut menggunakan mata uang dolar. Bahkan - selain suku cadang - ada beberapa merk mobil yang juga dibeli langsung dari luar negeri (dimana ini juga menggunakan mata uang dolar). Nah, ketika harga dolar naik, maka harga jual kembali mobil juga ikut naik. Inilah kenapa ketika terjadi krisis moneter lalu, ketika harga dolar melonjak dari Rp 2500-an menjadi Rp 10.000-an, banyak mobil yang bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada harga belinya.

    Tapi dari segi nilainya, nilai mobil seharusnya menurun setelah Anda pakai, bukan malah naik. Ini karena kondisi mobil Anda setelah dipakai tidak lagi akan seprima ketika Anda membelinya pertama kali. Jadi, jangan harap Anda bisa menjual mobil Anda dengan harga yang (jauh) lebih tinggi dibanding pada harga ketika Anda membelinya, kecuali bila harga dolar naik secara drastis seperti yang pernah terjadi pada tahun 1998.



    Read More...